Minggu, 18 November 2012


PENGERTIAN ANAK TUNAGRAHITA

Tunagrahita termasuk dalam golongan anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan secara khusus untuk penyandang tunagrahita lebih dikenal dengan sebutan sekolah luar biasa (SLB). Pengertian tunagahita pun bermacam-macam.
.
Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Istilah lain untuk tunagrahita ialah sebutan untuk anak dengan hendaya atau penurunan kemampuan ayau berkurangnya kemampuan dalam segi kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas.
Pengertian lain mengenai tunagrahita ialah cacat ganda. Seseorang yang mempunyai kelainan mental, atau tingkah laku akibat kecerdasan yang terganggu. Istilah cacat ganda yang digunakan karena adanya cacat mental yang dibarengi dengan cacat fisik. Misalnya cacat intelegensi yang mereka alami disertai dengan keterbelakangan penglihatan (cacat mata). Ada juga yang disertai dengan gangguan pendengaran.
Namun, tidak semua anak tunagrahita memiliki cacat fisik. Contohnya pada tunagrahita ringan. Masalah tunagrahita ringan lebih banyak pada kemampuan  daya tangkap yang kurang. Secara global pengertian tunagrahita ialah anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan dalam intelegensi, fisik, emosional, dan sosial yang membutuhkan perlakuan khusus supaya dapat berkembang pada kemampuan yang maksimal.

ANAK AUTIS


    TERAPI DI RUMAH UNTUK ANAK AUTIS
      Terapi anak autis tentulah harus berada di bawah pengawasan terapis, psikiater, atau dokter terpercaya. Namun, bukan berarti dengan demikian orangtua lepas tangan dari "pendidikan khusus" bagi anaknya yang menderita autisme. Sebaliknya, orangtua harus selalu menyokong pendidikan yang baik guna menopang terapi.
      Autisme atau Autistic Spectrum Disorder (ASD) tentu bukan problematika kejiwaan, karena pemicunya adalah gangguan fungsi otak yang menyebabkan sulitnya anak berkomunikasi dengan orang lain. Maka terapi anak autisyang disarankan dokter akan cenderung berkutat dalam hal obat-obatan.
      Tetapi untuk merangsang komunikasi tetap berlangsung antara anak dan orang terdekat yang dikenalnya, sudah tentu orangtua harus mendukung terapi tersebut. Caranya adalah dengan memberikan rangsangan komunikasi atau terus berkomunikasi dengan anak selama proses terapi anak autis berlangsung.
      Dimulai dari sering mengajak anak berbicara, membantu memfokuskan pembicaraan, sampai meminta mengarahkan wajah saat kita atau anak tengah berbicara. Bangun pula suasana menyenangkan dalam berkomunikasi, seperti dengan menghadirkan aneka permainan berwarna-warni, buku cerita bergambar, atau permainan-permainan yang disukainya.
      Pola pembicaraan yang paling mudah dilakukan untuk mendukung terapi anak autisadalah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang (mungkin) jarang ditanyakan pada anak dengan kondisi normal. Misalnya, jika pada anak normal Anda menunjukkan seekor tupai bertubuh kecil, pada anak autis Anda mesti juga menambahkan pertanyaan, "Apakah tubuh tupai kecil?", atau "Apa tubuhmu sebesar tupai?", sehingga anak dapat terpancing untuk berkomunikasi.
      Selanjutnya, ingat pula bahwa pola komunikasi untuk mendukung terapi anak autis harus berjalan positif. Setiap anak mengharapkan pujian, dan pada anak autis pujian dapat berguna sebagai petunjuk 'jalan yang benar'. Berikan pujian lewat perkataan atau tunjukkan kasih sayang Anda jika anak dapat menjawab dengan baik.
      Di samping itu, membantu terapi anak autis juga dapat dilakukan dengan melakukan senam atau gerakan-gerakan sederhana seperti permainan menggerakkan anggota tubuh. Memiringkan kepala beberapa kali, memutar badan ke kanan dan kiri, mengangkat tangan tinggi-tinggi, dll. Seluruh gerakan ini akan mendukung terciptanya latihan motorik pada otak anak, sehingga terapi akan lebih mudah dijalankan.
      Paling dasar atau sebagai tips terakhir dari membantu terapi anak autis di rumah adalah senantiasa menyiapkan diri tetap sabar berkomunikasi dengan anak. Tentu bukan hal mudah dibanding memberikan kasih sayang pada anak normal, tetapi sebagai titipan Tuhan dan buah cinta kita, sudah semestinya mereka tetap mendapat belaian kasih sayang sesuai kebutuhannya.

anak autis


CARA MENDIDIK ANAK AUTIS

Mendidik anak autis menuntut kesabaran orangtua, keluarga dan juga lingkungan. Seperti yang kita ketahui, autis merupakan gangguan pada perkembangan otak anak yang dapat mengganggu kemampuan berkomunikasi dengan dunia luar. Gejala autis yang dapat dikenali dengan baik adalah suka menghindari kontak mata, mudah menangis, berbicara dengan kalimat sama, mempunyai obsesi pada sesuatu, tidak dapat tertawa dan bercanda, sulit untuk berbicara, serta tidak mempunyai rasa ingin tahu seperti halnya anak normal lainnya. Jika anda jika anda mendapatkan beberapa gejala atau ciri dari anak autis, ada baiknya bila anda segera menemui dokter untuk mendapatkan penjelasan dan penanganan lebih lanjut agar anak anda dapat segera diatasi.
Melakukan Terapi Untuk Anak Autis
Terapi yang digunakan di Indonesia dikenal dengan nama ABA atau disebut Applied Behavior Analysis. Ini adalah salah satu terapi yand dilakukan untuk mendidik anak autis untuk meningkatkan sikap positif dengan cara sering memuji dan memberi hadiah. Tujuan dari terapi yang dijalani oleh anak autis ini dilakukan untuk menghilangkan sikap buruk anak autis dengan mengajari sikap yang baik agar dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Untuk mendukung terapi ini, maka peran aktif dari orang tua untuk mendidik anak mereka yang autis sangat diperlukan.
Hal ini dilakukan dengan cara menanamkan sikap positif pada sang anak yang dibarengi dengan kesabaran dan ketekunan agar anak autis dapat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain secara terus menerus karena ia pun harus menghadapi masa depannya sendiri dan tidak mungkin akan terus didampingi oleh orang tua dan keluarga. Untuk menghilangkan kebosanan, anda dapat membantu anak autis untuk menekuni salah satu bidang, misalnya melukis, bermain musik, atau berbahasa.  Hal ini karena tiap anak autis pun memiliki keistimewaan dan pada gilirannya, orangtualah yang harus menggali lebih dalam bakat terpendam anak autis.
Kebesaran Hati Dalam Mendidik
Saat mendidik mereka yang mengalami masalah autis, diperlukan kebesaran hati karena mereka harus berhadapan dengan anak yang memiliki dunia yang berbeda dengan dunia normal yang kita rasakan. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri dan cenderung sensitif bila kehendaknya tidak dipenuhi. Untuk itu, kesabaran dan ketelatenan sangatlah dibutuhkan agar mereka tidak semakin merasa kecil dan ia dapat berkembang seperti anak normal lainnya. Jadi, mendidik mereka untuk mandiri dengan metode tegas dan tidak keras pun dapat diterapkan karena bila anak autis dikerasi dan dibentak, maka ia pun tidak akan menggubris. Jadi, perlu hati yang besar untuk mendidik anak autis.

Minggu, 11 November 2012


    Penyebab Terjadinya Cerebal Palasy

Kelahiran prematur merupakan faktor risiko untuk cerebral palsy. Otak prematur berada pada risiko tinggi perdarahan, dan ketika cukup parah, dapat mengakibatkan cerebral palsy. Anak-anak yang lahir prematur juga dapat mengembangkan gangguan pernapasan yang serius karena paru-paru belum matang dan kurang berkembang. Hal ini dapat mengakibatkan periode penurunan oksigen dikirim ke otak yang mungkin mengakibatkan cerebral palsy.
Penyebab penting lainnya dari cerebral palsy adalah kecelakaan perkembangan otak, kelainan genetik, stroke akibat pembuluh darah abnormal atau bekuan darah, atau infeksi otak.Meskipun secara luas diyakini bahwa penyebab paling umum dari cerebral palsy adalah kurangnya oksigen ke otak selama persalinan (asfiksia lahir), sebenarnya merupakan penyebab yang sangat jarang dari cerebral palsy. Ketika cerebral palsy adalah hasil dari asfiksia lahir, bayi hampir selalu menderita ensefalopati neonatal berat dengan gejala selama beberapa hari pertama kehidupan. Gejala ini meliputi:
·         Kejang;
·         Lekas marah;
·         Jitteriness;
·         Makan dan masalah pernapasan;
·         lesu, dan koma tergantung pada keparahan.
Dalam kasus yang jarang terjadi, kecelakaan kandungan selama pengiriman sangat sulit dapat menyebabkan kerusakan otak dan mengakibatkan cerebral palsy. Sebaliknya, sangat mungkin bahwa gejala cerebral palsy akan berkembang setelah beberapa tahun usia akibat komplikasi obstetri.
Pelecehan anak selama masa bayi dapat menyebabkan kerusakan otak yang signifikan yang pada kenyataannya dapat menyebabkan cerebral palsy. Penyalahgunaan ini sering menimbulkan pengaruh yang besar dari orang tua atau pengasuh frustrasi, yang dapat menyebabkan pendarahan di dalam atau di luar otak. Terlebih lagi, banyak anak dengan kelainan perkembangan beresiko untuk disalahgunakan. Dengan demikian, seorang anak dengan cerebral palsy dapat dilakukan secara signifikan lebih buruk atau bahkan dibunuh oleh satu insiden pelecehan.
Meskipun terdapat berbagai macam penyebab cerebral palsy, namun lebih banyak kasus yang terjadi tanpa penyebab yang dapat dipastikan. Namun, kemampuan ditingkatkan untuk melihat struktur otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) dan CT scan serta kemampuan diagnostik ditingkatkan untuk gangguan genetik telah membuat jumlah kasus tersebut jauh lebih rendah.

Sabtu, 10 November 2012


Apa cerebral palsy?

Cerebral palsy (CP) adalah kelainan fungsi motorik (sebagai lawan dari fungsi mental) dan nada postural yang diperoleh pada usia dini, bahkan sebelum kelahiran. Tanda dan gejala cerebral palsy biasanya menunjukkan pada tahun pertama kehidupan.

Kelainan ini terdapat pada sistem motor yang merupakan hasil dari luka otak yang nonprogressive. Sistem motor tubuh menyediakan kemampuan untuk bergerak dan mengontrol gerakan. Sebuah luka otak adalah kelainan struktur atau fungsi otak. "Nonprogressive" berarti bahwa luka tidak menghasilkan degenerasi berlangsung dari otak. Hal ini juga menyiratkan bahwa luka otak adalah hasil dari cedera otak satu kali, itu tidak akan terjadi lagi. Apapun kerusakan otak yang terjadi pada saat cedera adalah tingkat kerusakan selama sisa hidup anak.

Cerebral palsy mempengaruhi sekitar satu hingga tiga dari setiap seribu anak lahir. Namun, jauh lebih tinggi pada bayi yang lahir dengan berat badan sangat rendah dan pada bayi prematur.

Minggu, 04 November 2012

perkembangan anak


Perkembangan kognitif Anak
Usia 1 bulan : - melihat ke arah orang-orang yang sedang bergerak
-          Melihat ke wajah orang-orang di sekitarnya
-          Diam ketika digendong
-          Menikmati ketika dalam gendongan
Usia 2 bulan : - matanya dapat bergerak mengikuti orang/benda yang bergerak
-          Tetap terbangun dari tidurnya untuk waktu yang ukup lama ( jam tidur si kecil sekarang sudahmulai berkurang)
-          Mulai untuk tersenyum
Usia 3 bulan : - mulai senang melihat tanganya sendiri
-          Merasakan suatu benda dengan mulut dan tanganya
-           Menengokkan kepalanya kearah suara berasal
-          Tersenyum kepada orang yang dia kenal
Usia 4 bulan : - dapat memfokuskan matanya ke arah suara berasal
-          Melihat mainannya yang dipegang tanganya sendiri
-          Tersenyum sendiri ketika dihadapkan kecermin
-          Mulai mengeluarkan tawanya
Usia 5 bulan : - menemukan mainan yang disembunyikan sebagiab di bawah kain
-          Dapat memproduksi suara sendiri untuk menarik perhatian dari lingkungan sosialnya
-          Memperhatikan orang asing yang ada disekitarnya
Usia 6 bulan : - mulai mencoba meraih mainanya yang sebenarnya berada di luar jangkauan si kecil.
-          Mulai menyukai bersama orang lain/menyukai keramaian
Usia 6-12 bulan:
 - Dapat menemukan benda atau mainannya setelah sebelumnya melihatnya disembunyikan.
- Melihat-lihat gambar yang ada dibuku.
- Dapat menggunakan benda sebagai suatu peralatan sesudah ditunjukan bagaimana caranya.
- Menikmati fungsi mainanya,seperti mainan musiknya dll
- Sangat menyukai permainan ci…luk…baa.. ataupun pok…ame…ame.




Pengertian Anak dengan kebutuhan khusus
Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi kelainan/penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.
Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan menjadi 9 jenis. Berdasarkan berbagai studi, ke 9 jenis ini paling sering dijumpai di sekolah-sekolah reguler. Secara singkat masing-masing jenis kelainan dijelaskan sebagai berikut :
1. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan
Tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran
Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
3. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
4. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
Anak berbakat adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi), kreativitas, dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
5. Tunagrahita
Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.
6. Lamban belajar (slow learner) :
Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
Anak yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti)
8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi;
Anak yang mengalami gangguan komunikasi adalah anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan.
9. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.
Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya.