Kamis, 16 Mei 2013

Tunarungu 1


MENGENALI ANAK TUNARUNGU
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Ortopedagogik Umum
Semester 1
Dosen Pengampu: Drs. Munawir Yusuf, M.Psi


Disusun Oleh:
                        Nama         :  Saefudin Ampri
                        NIM            :  K5112063
                        Kelas          :  B
                        Prodi          :  Pendidikan Khusus/ PLB




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS/LUAR BIASA
JURUSAN ILMU PENDIDKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012/2013



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i
DAFTAR ISI ......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang ..............................................................................  1
B.Tujuan ............................................................................................  2
BAB II RUMUSAN MASALAH ........................................................  3
BAB III PEMBAHASAN
A.Pengertian Tunarungu ....................................................................  4
B.Klasifikasi anak Tunarungu ...........................................................  5
C.Ciri-ciri anak Tunarungu................................................................. 6
D.Faktor penyebab ketunarunguan ...................................................  8
E.Dampak ketunarunguan .................................................................  10
BAB IV PENUTUP
A.Kesimpulan ....................................................................................  12
B.Saran ..............................................................................................  13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................  14



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan perhatian lebih baik dari segi pendidikan maupun sosial. Dengan perhatian lebih maka anak berkebutuhan khusus merasa lebih dihargai dan tidak merasa terdiskriminasi dengan anak normal lainnya. Termasuk juga anak Tunarungu dimana mereka berkebutuhan khusus dalam hal berkomukasi.  
Pada dasarnya             Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya. Bahasa juga merupakan kunci dalam menguasai ilmu pengetahuan karena adanya proses pertukaran informasi yang dapat menambah pemahaman manusia akan sesuatu yang dikehendakinya. Tetapi pada anak tunarungu pemahaman bahasanya sangat terganggu karena kelainan pada indra pendengaran sehingga sangat susah dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk membantu mengembangkan kemanpuan bicara dan bahasa, anak tunarungu memerlukan bantuan pelayanan secara khusus.
Anak tunarungu sangat banyak membutuhakan bantuan orang lain disekitarnya. Anak tunarungu juga membutuhkan rasa kasih sayang. Anak tunarungu juga dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis kelainanya. Selain itu ciri-ciri anak tunarungu juga dapat dilihat dari jenis kelainan dari taraf pendengaran dan juga dapat berdampak dalam kehidupan sehari-harinya.

B.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ortopedagogik Umum
2.      Memahami apa yang dimaksud Tunarungu.
3.      Memahami klasifikasi Anak  Tunarungu.
4.      Memahami ciri-ciri Anak Tunarungu
5.      Memahami faktor penyebab Ketunarunguan
6.      Memahami dampak Ketunarunguan


BAB II
RUMUSAN MASALAH

            Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara lain :
1.      Apa yang dimaksud Tunarungu?
2.      Apa saja klasifikasi Anak Tunarungu?
3.      Apa saja ciri-ciri Anak Tunarungu?
4.      Apa faktor penyebab Ketungarunguan ?
5.      Bagaimana dampak Ketunarunguan?


BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tunarungu
            Istilah tunarungu diambil dari kata ‘tuna’ dan ‘rungu’, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Sehingga Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengaran.
            Menurut Dwijosumarto (dalam Somantri 1990: 1), mengemukakan
bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
                        Selain itu, Salim (dalam Somantri 1984: 8), mengemukakan bahwa anak     tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan        mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau       seluruh alat pendengaranm sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan          bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai         kehidupan lahir batin yang layak.
            Dapat disimpulkan bahwa Tunarungu adalah seseorang yang kehilangan pendengarannya baik seluruhan  atau tuli (deaf) maupun  sebagian atau kurang dengar( hart of hearing) yang menyebabkan pendengaranya tidak berfungsi secara normal di kehidupan sehari-hari.

B.     Klasifikasi Anak Tunarungu
                        Menurut Sastrawinata (1977: 12-13), klasifikasi anak tunarungu berdasarkan tingkat gangguan sebagi berikut:
a.       Ketunarunguan pada taraf 15 – 25 dB., yaitu ketunarunguan taraf ringan. Anak tunarungu pada taraf ini masih dapat belajar bersama anak-anak pada umumnya dengan pemakaian alat pembantu mendengar, penempatan yang tepat dan pemberian-pemberian bantuan yang lain.
b.      Ketunarunguan pada taraf 26-50 dB., yaitu ketunarunguan taraf sedang. Anak tunarungu pada taraf ini sudah memerlukan pendidikan khusus dengan latihan bicara, membaca ajaran dan latihan mendengar dengan memakai alat pembantu mendengar.
c.       Ketunarunguan pada taraf 51-75 dB., yaitu ketunarunguan taraf berat. Anak tunarungu pada taraf ini sudah harus mengikuti program pendidikan di sekolah luar biasa dengan mengutamakan pelajaran bahasa, tetapi masih dapat dipakai dijalan-jalan raya untuk bunyi klakson, dan suara-suara bising yang lain.
d.      Ketunarunguan pada taraf 75 dB keatas., yaitu ketunarunguan taraf sangat berat. Anak tunarungu pada taraf ini lebih memerlukan program pendidikan kejuruan, meskipun pelajaran bahasa dan bicara masih dapat diberikan kepadanya. Penggunaan alat pembantu mendengar biasa tidak menberikan manfaat baginya.

                        Kelainan pendengaran meskipun banyak kemungkinanya baik dalam struktur maupun fungsi, dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan anatomi-fisiologis ,yaitu:
a.       Tunarungu Hantaran (konduksi),ialah ketunarunguan yang disebabkan kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat penghantar getaran suara pada telinga bagian tengah. Ketunarunguan konduksi terjadi karena pengurangan intensitas bunyi yang mencapai telinga bagian dalam,dimana syaraf pendengaran berfungsi.
b.      Tunarungu Syaraf(sensorineural), ialah tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat pendengaran bagian dalam syaraf pendengaran yang menyalurkan getaran ke pusat pendengaran lobus temporalis.
c.       Tunarungu Campuran, adalah kelainan pendedengaran yang disebabkan kerusakan pada penghantar suara dan kerusakan pada syaraf pendengaran.

C.     Ciri-ciri Anak Tunarungu
                        Menurut Sastrawinata (1977: 15-18), beberapa ciri-ciri umum yang sering ditemukan pada anak tunarungu :
a.         Dalam segi fisik: cara berjalannya kaku dan agak membungkuk, gerakan matanya cepat, agak beringas, gerakan kaki dan tangannya sangat cepat/lincah, pernafasannya pendek dan agak terganggu.
b.        Dalam segi inteligensi: anak-anak tunarungu sukar dapat menangkap pengertian yang abstrak, sebab untuk dapat menangkap pengertian abstrak diperlukan pemahaman yang baik akan bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
c.         Dalam segi emosi: emosi anak tunarungu selalu bergolak, di satu fihak karena kemiskinan bahasanya, dan di lain pihak karena pengaruhpemgaruh dari luar yang diterimanya.
d.        Dalam segi sosial: perasaan rendah diri, perasaan cemburu, dan kurang dapat bergaul.
e.         Dalam segi bahasa: miskin dalam kosa kata, sulit mengartikan ungkapan-ungkapan bahasa yang mengandung arti kiasan, sulit mengartikan kata-kata abstrak, kurang menguasai irama dan gaya bahasa.
                        Sedangkan cirri-ciri anak tuna rungu berdasarkan taraf pendengarannya yaitu:
a.         Tunarungu ringan:
1.      Dapat mengerti percakapan bias dengan jarak sangat dekat.
2.      Kemampuan mendengar masih baik karena berada digaris batas antara pendengaran normal dan kekurangan pendengaran taraf ringan.
3.       Kesulitan menangkap isi pembicaraan dan lawan bicaranya,jika berada pada posisi tidak searah dengan pandangan(berhadapan).
4.      Bisa mengikuti pembelajaran sekolah tapi denga kelas khusus.
b.        Tunarungu sedang:
1.      Dapat mengerti percakapan keras pada jarak dekat kira kira 1 meter, sebab ia kesulitan menangkap percakapan pada jarak normal.
2.      Kesulitan menggunakan bahasa dengan benar dalam percakapan.
3.      Pembendaharaan kosa katanya sangat terbatas
c.         Tunarungu berat:
1.      Biasanya ia tidak menyadari bunyi keras sama sekali tidak mendengar.
2.      Anak tunarungu meskipun menggunakan pengeras suara, tetapi tidak dapat memahami atau menangkap suara.
3.      Melatih membaca bibir, latihan mendengar atau kesadaran bunyi.
4.      Perlu dilatih,dibimbing terus menerus.
d.        Tunarungu sangat berat
1.      Sangat susah dalam berkomunikasi.
2.      Sangat dibutuhkan terapi bicara.
3.      Sangat susah mengikuti pembelajaran disekolah.
D.    Faktor Penyebab  Ketunarunguan
Secara umum penyebab terjadinya ketunarunguan digolongkan menjadi 3, yaitu:
a. Masa Pre Natal
          Masa pre natal tuna rungu dapat disebabkan oleh :
1.      Faktor Hereditas (keturunan)
Yaitu anak yang menderita tuna rungu karena diantara keluarganya, terutama ayah dan ibunya atau kakek neneknya penderita tuna rungu, jadi kecacatan atau tuna rungu itu berasal dari keluarganya.
2.      Pada waktu ibu mengandung
Menderita suatu penyakit, misalnya penyakit campak, cacar air, malaria, sehingga penyakit itu berpengaruh pada anak yang dikandungnya dan dapat menganggu pendengaran anak.
3.      Terjadinya kerancuan pada janin karena pengaruh obat
Ketika ibu mengandung, kemudian ibu meminum obat terlalu keras misalnya dalam jumlah besar
b. Masa Natal
     Ketunarunguan pada masa natal atau saat kelahiran bayi, ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
     karena proses kalahiran ini mengalami kesuburan sehingga memerlukan alat pertolongan dengan menggunakan tangan, yang memungkinkan mengenai otak besar dan dalam otak itu terdapat banyak saraf, salah satunya adalah otak saraf pendengaran, yang mengakibatkan anak menjadi kurang pendengarannya.
c.  Masa Past Natal
            Adalah masa past natal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1.      Karena penyakit : anak menderita panas yang sangat dan terlalu tinggi akibatnya dapat melemahkan saraf pendengarannya.
2.      Otetis medis yang kronis.
3.      Cairan otetis medis yang kurang menyebabkan kehilangan pendengaran secara kondusif (tuli kondusif).

          Selain itu faktor-faktor penyebab ketunarunguan dapat dikelompokan sebagai berikut:
a.     Faktor dalam Diri Anak
     Faktor dari dalam diri anak ini ada beberapa hal yang bisa menyebabkan ketunarunguan, antara lain:
1.    Disebabkan oleh faktor keturunan dari salah satu atau kedua orang tuanya yang mengalami ketunarunguan.
2.    Ibu yang sedang mengandung menderita penyakit.
3.    Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah atau toxaminia,hal ini dapa mengakibatkan kerusakan pada plasenta yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin.

b.    Faktor luar Diri Anak
1.      Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan atau kelahiran.Misal, anak terserang Herpes Implek, jika infeksi ini menyerang alat kelamin ibu dapat menular pada saat anak dilahirkan.
2.      Meningitis atau Radang Selaput Otak
Kebanyakan penelitian para  ahli ketunarunguan disebabkan oleh Meningitis.
3.      Otitis Media (Radang telanga bagian tengah)
Otitis Media adalah radang pada telinga bagian tenga, sehingga menimbulkan nanah dann nanah tersebut mengumpal dan mengganggu hantaran bunyi.
4.      Penyakit lainnya atau kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerusakan alat-alat pendengaran bagian dalam dan tengah.

E.     Dampak Ketunarunguan
            Dampak ketunarunguan yang dialami oleh anak tunarungu secara umum menurut Sastrawinata (1977: 16-17 ), yaitu pada segi:
1.      Intelegensi
     Pada dasarnya kemampuan intelektual anak tunarungu sama seperti anak yang normal    pendengarannya. Anak tunarungu ada yang memiliki  intelegensi tinggi, rata-rata dan rendah. Perkembangan intelegensi anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan mereka yang mendengar. Pada umumnya anak tunarungu memiliki intelegensi yang normal atau rata-rata, tetapi karena perkembangan intelegensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa maka anak tunarungu akan menampakkan intelegensi yang rendah karena mengalami kesulitan memahami bahasa.


2.      Segi Bahasa dan Bicara
     Kemampuan berbicara dan bahasa anak tunarungu berbeda dengan anak yang mendengar, hal ini disebabkan perkembangan bahasa erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Perkembangan bahasa dan bicara pada anak tunarungu sampai masa meraban tidak mengalami hambatan karena meraban merupakan kegiatan alami pernafasan dan pita suara. Setelah masa meraban, perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu terhenti. Pada masa meniru, anak tunarungu terbatas hanya pada peniruan yang sifatnya visual yaitu gerak dan isyarat. Perkembangan bicara selanjutnya pada anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif, sesuai dengan taraf ketunarunguan dan kemampuan-kemampuan yang lain.
     Karena anak tunarungu tidak mampu mendengar bahasa, maka kemampuan berbahasanya tidak akan berkembang bila ia tidak dididik atau dilatih secara khusus. Akibat dari ketidakmampuannya dibandingkan dengan anak yang mendengar pada usia yang sama, maka dalam perkembangan bahasanya akan jauh tertinggal.
3.      Segi Emosi dan Sosial
     Ketunarunguan dapat mengakibatkan terasingnya individu tunarungu dari pergaulan sehari-hari, yang berarti mereka terasing dari pergaulan atau aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat dimana ia hidup. Keadaan ini menghambat perkembangan kepribadian anak menuju kedewasaan.
     Dari uraian diatas Anak tunarungu tidak dapat menangkap lambang pendengaran. Oleh sebab itu, dalam pendidikannya biasanya digunakan lambang visual berupa membaca ujaran sebagai pengganti dan bahasa oral. Selain itu, media visual yang berupa slide show yang disertakan dengan gambar dan isi yang akan disampaikan maka dapat membantu siswa untuk memahami ujaran yang disampaikan oleh gurunya.



BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulakan sebagai berikut:
1.      Tunarungu adalah seseorang yang kehilangan pendengarannya baik seluruhan  atau tuli (deaf) maupun  sebagian atau kurang dengar ( hart of hearing) yang menyebabkan pendengaranya tidak berfungsi secara normal di kehidupan sehari-hari.
2.      Klasifikasi anak tunarungu berdasarkan tingkat gangguanya dapat dibedakan menjadi empat antara lain:
a.       Ketunarunguan taraf 15-25 dB ( ringan )
b.      Ketunarunguan taraf 26-50 dB ( sedang )
c.       Ketunarunguan taraf 51-75 dB ( berat )
d.      Ketunarunguan taraf 75 db –keatas ( sangat berat )
Sedangkan berdasarkan anatomi-fisiologis dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a.       Tunarungu Hantaran ( konduksi )
b.      Tunarungu Syaraf ( Sensorineural )
c.       Tunarungu Campuran
3.      Cirri-ciri anak tunarungu dapat dilihat dari beberapa segi yaitu dari segi fisik,intelegensi,emosi,sosial dan bahasa.
4.      Faktor penyebab terjadi ketunarunguan secara umum dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a.       Masa Pre Natal(dalam kandungan) ,meliputi:
Ø  Faktor Heriditas
Ø  Pada waktu ibu mengandung
Ø  Terjadi keracunan pada janin karena obat ketika ibu mengandung
b.      Masa Natal (waktu anak lahir)
c.       Masa Past Natal(setelah anak lahir),meliputi:
Ø  Karena penyakit
Ø  Otetis medis
Ø  Cairan Otetis medis yang kurang
            Selain itu juga faktor-faktor penyebab lainnya yaitu
a.       Faktor dalam diri anak
b.      Faktor luar diri anak
5.      Dampak ketunarunguan anak dapat dilihat dari beberapa segi yaitu dari segi intelegensi anak, segi bahasa dan bicara anak, dan dari segi Emosi- sosial anak

B.     Saran
     Tentunya dalam penulisan Makalah ini masih banyak kekurangan. Maka, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Makalah ini, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan dan kita manusia selalu diberi kekurangan, terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Dwidjosumatro,Andreas.(1995).Ortopedagogik Anak Tunarungu.Bandung: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Purwanto,Heri.(1998). OrtopedagogikUmum.Yogyakarta:INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN YOGYAKARTA.

Somantri,Sutjihati.(1996).Psikologi Anak Luar biasa.Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Sadjaah,Edha. 2005. Pendidkan bahas bagi Anak Gangguan pendengaran Dalam Keluarga. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Nasional.
Efendi,Muhammad.2006.Psikopedagogik Anak Berkelainan.Jakarta:Bumi Aksara
http://notako.wordpress.com/2012/12/26/psikologi-anak-tunarungu/







Tidak ada komentar:

Posting Komentar