MENGENALI ANAK TUNARUNGU
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Ortopedagogik Umum
Semester 1
Dosen Pengampu:
Drs. Munawir Yusuf, M.Psi
Disusun Oleh:
Nama :
Saefudin Ampri
NIM
: K5112063
Kelas : B
Prodi : Pendidikan Khusus/ PLB
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN KHUSUS/LUAR BIASA
JURUSAN ILMU
PENDIDKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET SURAKARTA
2012/2013
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................. i
DAFTAR ISI ......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang .............................................................................. 1
B.Tujuan ............................................................................................ 2
BAB II RUMUSAN MASALAH ........................................................ 3
BAB III PEMBAHASAN
A.Pengertian Tunarungu .................................................................... 4
B.Klasifikasi anak Tunarungu ........................................................... 5
C.Ciri-ciri anak Tunarungu.................................................................
6
D.Faktor penyebab ketunarunguan ................................................... 8
E.Dampak ketunarunguan ................................................................. 10
BAB IV PENUTUP
A.Kesimpulan .................................................................................... 12
B.Saran .............................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 14
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Anak
berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan perhatian lebih baik dari segi
pendidikan maupun sosial. Dengan perhatian lebih maka anak berkebutuhan khusus
merasa lebih dihargai dan tidak merasa terdiskriminasi dengan anak normal
lainnya. Termasuk juga anak Tunarungu dimana mereka berkebutuhan khusus dalam
hal berkomukasi.
Pada dasarnya Bahasa
merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena
melalui bahasa manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya. Bahasa juga
merupakan kunci dalam menguasai ilmu pengetahuan karena adanya proses
pertukaran informasi yang dapat menambah pemahaman manusia akan sesuatu yang
dikehendakinya. Tetapi pada anak tunarungu pemahaman bahasanya sangat terganggu
karena kelainan pada indra pendengaran sehingga sangat susah dalam
berkomunikasi dengan orang lain. Untuk membantu mengembangkan kemanpuan bicara
dan bahasa, anak tunarungu memerlukan bantuan pelayanan secara khusus.
Anak tunarungu sangat banyak membutuhakan bantuan orang lain
disekitarnya. Anak tunarungu juga membutuhkan rasa kasih sayang. Anak tunarungu
juga dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis kelainanya. Selain itu ciri-ciri
anak tunarungu juga dapat dilihat dari jenis kelainan dari taraf pendengaran
dan juga dapat berdampak dalam kehidupan sehari-harinya.
B.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Ortopedagogik Umum
2. Memahami apa yang dimaksud Tunarungu.
3. Memahami klasifikasi Anak Tunarungu.
4. Memahami ciri-ciri Anak Tunarungu
5. Memahami faktor penyebab
Ketunarunguan
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara
lain :
1. Apa yang dimaksud Tunarungu?
2. Apa saja klasifikasi Anak Tunarungu?
3. Apa saja ciri-ciri Anak Tunarungu?
4. Apa faktor penyebab Ketungarunguan ?
5. Bagaimana dampak Ketunarunguan?
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tunarungu
Istilah tunarungu diambil dari kata
‘tuna’ dan ‘rungu’, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Sehingga
Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang
mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui
indera pendengaran.
Menurut Dwijosumarto (dalam Somantri
1990: 1), mengemukakan
bahwa
seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu.
Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli (deaf) dan
kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera
pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak
berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera
pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk
mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing
aids).
Selain itu, Salim (dalam Somantri 1984: 8),
mengemukakan bahwa anak tunarungu
adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan
atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh
alat pendengaranm sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan
pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan
lahir batin yang layak.
Dapat disimpulkan bahwa Tunarungu
adalah seseorang yang kehilangan pendengarannya baik seluruhan atau tuli (deaf) maupun sebagian atau kurang dengar( hart of hearing)
yang menyebabkan pendengaranya tidak berfungsi secara normal di kehidupan
sehari-hari.
B. Klasifikasi
Anak Tunarungu
Menurut Sastrawinata
(1977: 12-13), klasifikasi anak tunarungu berdasarkan tingkat gangguan sebagi
berikut:
a. Ketunarunguan
pada taraf 15 – 25 dB., yaitu ketunarunguan taraf ringan. Anak tunarungu pada
taraf ini masih dapat belajar bersama anak-anak pada umumnya dengan pemakaian
alat pembantu mendengar, penempatan yang tepat dan pemberian-pemberian bantuan
yang lain.
b. Ketunarunguan
pada taraf 26-50 dB., yaitu ketunarunguan taraf sedang. Anak tunarungu pada
taraf ini sudah memerlukan pendidikan khusus dengan latihan bicara, membaca
ajaran dan latihan mendengar dengan memakai alat pembantu mendengar.
c. Ketunarunguan
pada taraf 51-75 dB., yaitu ketunarunguan taraf berat. Anak tunarungu pada
taraf ini sudah harus mengikuti program pendidikan di sekolah luar biasa dengan
mengutamakan pelajaran bahasa, tetapi masih dapat dipakai dijalan-jalan raya
untuk bunyi klakson, dan suara-suara bising yang lain.
d.
Ketunarunguan
pada taraf 75 dB keatas., yaitu ketunarunguan taraf sangat berat. Anak
tunarungu pada taraf ini lebih memerlukan program pendidikan kejuruan, meskipun
pelajaran bahasa dan bicara masih dapat diberikan kepadanya. Penggunaan alat
pembantu mendengar biasa tidak menberikan manfaat baginya.
Kelainan pendengaran
meskipun banyak kemungkinanya baik dalam struktur maupun fungsi, dapat
dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan anatomi-fisiologis ,yaitu:
a.
Tunarungu
Hantaran (konduksi),ialah ketunarunguan yang disebabkan kerusakan atau tidak
berfungsinya alat-alat penghantar getaran suara pada telinga bagian tengah.
Ketunarunguan konduksi terjadi karena pengurangan intensitas bunyi yang
mencapai telinga bagian dalam,dimana syaraf pendengaran berfungsi.
b.
Tunarungu
Syaraf(sensorineural), ialah tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau
tidak berfungsinya alat-alat pendengaran bagian dalam syaraf pendengaran yang
menyalurkan getaran ke pusat pendengaran lobus temporalis.
c.
Tunarungu
Campuran, adalah kelainan pendedengaran yang disebabkan kerusakan pada
penghantar suara dan kerusakan pada syaraf pendengaran.
C. Ciri-ciri
Anak Tunarungu
Menurut Sastrawinata (1977: 15-18), beberapa
ciri-ciri umum yang sering ditemukan pada anak tunarungu :
a.
Dalam segi
fisik: cara berjalannya kaku dan agak membungkuk, gerakan matanya cepat, agak
beringas, gerakan kaki dan tangannya sangat cepat/lincah, pernafasannya pendek
dan agak terganggu.
b.
Dalam segi
inteligensi: anak-anak tunarungu sukar dapat menangkap pengertian yang abstrak,
sebab untuk dapat menangkap pengertian abstrak diperlukan pemahaman yang baik
akan bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
c.
Dalam segi
emosi: emosi anak tunarungu selalu bergolak, di satu fihak karena kemiskinan
bahasanya, dan di lain pihak karena pengaruhpemgaruh dari luar yang
diterimanya.
d.
Dalam segi sosial:
perasaan rendah diri, perasaan cemburu, dan kurang dapat bergaul.
e.
Dalam segi
bahasa: miskin dalam kosa kata, sulit mengartikan ungkapan-ungkapan bahasa yang
mengandung arti kiasan, sulit mengartikan kata-kata abstrak, kurang menguasai
irama dan gaya bahasa.
Sedangkan cirri-ciri
anak tuna rungu berdasarkan taraf pendengarannya yaitu:
a.
Tunarungu ringan:
1.
Dapat mengerti
percakapan bias dengan jarak sangat dekat.
2.
Kemampuan mendengar
masih baik karena berada digaris batas antara pendengaran normal dan kekurangan
pendengaran taraf ringan.
3.
Kesulitan menangkap isi pembicaraan dan lawan
bicaranya,jika berada pada posisi tidak searah dengan pandangan(berhadapan).
4.
Bisa mengikuti
pembelajaran sekolah tapi denga kelas khusus.
b.
Tunarungu sedang:
1.
Dapat mengerti
percakapan keras pada jarak dekat kira kira 1 meter, sebab ia kesulitan
menangkap percakapan pada jarak normal.
2.
Kesulitan menggunakan
bahasa dengan benar dalam percakapan.
3.
Pembendaharaan kosa katanya
sangat terbatas
c.
Tunarungu berat:
1.
Biasanya ia tidak
menyadari bunyi keras sama sekali tidak mendengar.
2.
Anak tunarungu meskipun
menggunakan pengeras suara, tetapi tidak dapat memahami atau menangkap suara.
3.
Melatih membaca bibir,
latihan mendengar atau kesadaran bunyi.
4.
Perlu dilatih,dibimbing
terus menerus.
d.
Tunarungu sangat berat
1.
Sangat susah dalam
berkomunikasi.
2.
Sangat dibutuhkan terapi
bicara.
3.
Sangat susah mengikuti
pembelajaran disekolah.
D.
Faktor Penyebab Ketunarunguan
Secara umum
penyebab terjadinya ketunarunguan digolongkan menjadi 3, yaitu:
a. Masa Pre Natal
a. Masa Pre Natal
Masa
pre natal tuna rungu dapat disebabkan oleh :
1.
Faktor Hereditas (keturunan)
Yaitu anak yang menderita tuna rungu karena diantara keluarganya, terutama ayah dan ibunya atau kakek neneknya penderita tuna rungu, jadi kecacatan atau tuna rungu itu berasal dari keluarganya.
Yaitu anak yang menderita tuna rungu karena diantara keluarganya, terutama ayah dan ibunya atau kakek neneknya penderita tuna rungu, jadi kecacatan atau tuna rungu itu berasal dari keluarganya.
2.
Pada waktu ibu mengandung
Menderita suatu penyakit, misalnya penyakit campak, cacar air, malaria, sehingga penyakit itu berpengaruh pada anak yang dikandungnya dan dapat menganggu pendengaran anak.
Menderita suatu penyakit, misalnya penyakit campak, cacar air, malaria, sehingga penyakit itu berpengaruh pada anak yang dikandungnya dan dapat menganggu pendengaran anak.
3.
Terjadinya kerancuan pada janin
karena pengaruh obat
Ketika ibu mengandung, kemudian ibu meminum obat terlalu keras misalnya dalam jumlah besar
Ketika ibu mengandung, kemudian ibu meminum obat terlalu keras misalnya dalam jumlah besar
b. Masa Natal
Ketunarunguan pada masa natal atau saat kelahiran bayi, ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
Ketunarunguan pada masa natal atau saat kelahiran bayi, ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
karena proses kalahiran ini
mengalami kesuburan sehingga memerlukan alat pertolongan dengan menggunakan
tangan, yang memungkinkan mengenai otak besar dan dalam otak itu terdapat
banyak saraf, salah satunya adalah otak saraf pendengaran, yang mengakibatkan
anak menjadi kurang pendengarannya.
c. Masa Past Natal
Adalah masa past natal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
Adalah masa past natal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1.
Karena penyakit : anak menderita
panas yang sangat dan terlalu tinggi akibatnya dapat melemahkan saraf
pendengarannya.
2.
Otetis medis yang kronis.
3.
Cairan otetis medis yang kurang
menyebabkan kehilangan pendengaran secara kondusif (tuli kondusif).
Selain itu faktor-faktor penyebab
ketunarunguan dapat dikelompokan sebagai berikut:
a.
Faktor dalam Diri Anak
Faktor dari dalam diri anak ini
ada beberapa hal yang bisa menyebabkan ketunarunguan, antara lain:
1.
Disebabkan oleh faktor keturunan
dari salah satu atau kedua orang tuanya yang mengalami ketunarunguan.
2.
Ibu yang sedang mengandung menderita
penyakit.
3.
Ibu yang sedang mengandung menderita
keracunan darah atau toxaminia,hal ini dapa mengakibatkan kerusakan pada
plasenta yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin.
b.
Faktor luar Diri Anak
1.
Anak mengalami infeksi pada saat
dilahirkan atau kelahiran.Misal, anak terserang Herpes Implek, jika infeksi ini
menyerang alat kelamin ibu dapat menular pada saat anak dilahirkan.
2.
Meningitis atau Radang Selaput Otak
Kebanyakan penelitian para ahli
ketunarunguan disebabkan oleh Meningitis.
3.
Otitis Media (Radang telanga bagian
tengah)
Otitis Media adalah radang pada telinga bagian tenga, sehingga menimbulkan
nanah dann nanah tersebut mengumpal dan mengganggu hantaran bunyi.
4.
Penyakit lainnya atau kecelakaan
yang dapat mengakibatkan kerusakan alat-alat pendengaran bagian dalam dan
tengah.
E.
Dampak Ketunarunguan
Dampak
ketunarunguan yang dialami oleh anak tunarungu secara umum menurut Sastrawinata
(1977: 16-17 ), yaitu pada segi:
1. Intelegensi
Pada dasarnya kemampuan intelektual anak
tunarungu sama seperti anak yang normal pendengarannya. Anak tunarungu ada yang
memiliki intelegensi tinggi, rata-rata
dan rendah. Perkembangan intelegensi anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan
mereka yang mendengar. Pada umumnya anak tunarungu memiliki intelegensi yang
normal atau rata-rata, tetapi karena perkembangan intelegensi sangat
dipengaruhi oleh perkembangan bahasa maka anak tunarungu akan menampakkan
intelegensi yang rendah karena mengalami kesulitan memahami bahasa.
2. Segi
Bahasa dan Bicara
Kemampuan berbicara dan bahasa anak tunarungu berbeda dengan
anak yang mendengar, hal ini disebabkan perkembangan bahasa erat kaitannya
dengan kemampuan mendengar. Perkembangan bahasa dan bicara pada anak tunarungu
sampai masa meraban tidak mengalami hambatan karena meraban merupakan kegiatan
alami pernafasan dan pita suara. Setelah masa meraban, perkembangan bahasa dan
bicara anak tunarungu terhenti. Pada masa meniru, anak tunarungu terbatas hanya
pada peniruan yang sifatnya visual yaitu gerak dan isyarat. Perkembangan bicara
selanjutnya pada anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan
intensif, sesuai dengan taraf ketunarunguan dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Karena anak tunarungu tidak mampu mendengar bahasa, maka
kemampuan berbahasanya tidak akan berkembang bila ia tidak dididik atau dilatih
secara khusus. Akibat dari ketidakmampuannya dibandingkan dengan anak yang
mendengar pada usia yang sama, maka dalam perkembangan bahasanya akan jauh
tertinggal.
3. Segi
Emosi dan Sosial
Ketunarunguan dapat mengakibatkan terasingnya individu tunarungu
dari pergaulan sehari-hari, yang berarti mereka terasing dari pergaulan atau
aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat dimana ia hidup. Keadaan ini
menghambat perkembangan kepribadian anak menuju kedewasaan.
Dari uraian diatas Anak tunarungu tidak dapat menangkap lambang
pendengaran. Oleh sebab itu, dalam pendidikannya biasanya digunakan lambang
visual berupa membaca ujaran sebagai pengganti dan bahasa oral. Selain itu,
media visual yang berupa slide show yang disertakan dengan gambar dan
isi yang akan disampaikan maka dapat membantu siswa untuk memahami ujaran yang
disampaikan oleh gurunya.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
uraian di atas dapat disimpulakan sebagai berikut:
1.
Tunarungu adalah
seseorang yang kehilangan pendengarannya baik seluruhan atau tuli (deaf) maupun sebagian atau kurang dengar ( hart of
hearing) yang menyebabkan pendengaranya tidak berfungsi secara normal di
kehidupan sehari-hari.
2.
Klasifikasi anak
tunarungu berdasarkan tingkat gangguanya dapat dibedakan menjadi empat antara
lain:
a.
Ketunarunguan
taraf 15-25 dB ( ringan )
b.
Ketunarunguan
taraf 26-50 dB ( sedang )
c.
Ketunarunguan
taraf 51-75 dB ( berat )
d.
Ketunarunguan
taraf 75 db –keatas ( sangat berat )
Sedangkan
berdasarkan anatomi-fisiologis dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a.
Tunarungu
Hantaran ( konduksi )
b.
Tunarungu Syaraf
( Sensorineural )
c.
Tunarungu
Campuran
3.
Cirri-ciri anak
tunarungu dapat dilihat dari beberapa segi yaitu dari segi
fisik,intelegensi,emosi,sosial dan bahasa.
4.
Faktor penyebab
terjadi ketunarunguan secara umum dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a.
Masa Pre
Natal(dalam kandungan) ,meliputi:
Ø Faktor
Heriditas
Ø Pada
waktu ibu mengandung
Ø Terjadi
keracunan pada janin karena obat ketika ibu mengandung
b.
Masa Natal
(waktu anak lahir)
c.
Masa Past
Natal(setelah anak lahir),meliputi:
Ø Karena
penyakit
Ø Otetis
medis
Ø Cairan
Otetis medis yang kurang
Selain itu juga faktor-faktor
penyebab lainnya yaitu
a.
Faktor dalam
diri anak
b.
Faktor luar diri
anak
5.
Dampak
ketunarunguan anak dapat dilihat dari beberapa segi yaitu dari segi intelegensi
anak, segi bahasa dan bicara anak, dan dari segi Emosi- sosial anak
B.
Saran
Tentunya
dalam penulisan Makalah ini masih banyak kekurangan. Maka, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Makalah ini, karena
kesempurnaan hanya milik Tuhan dan kita manusia selalu diberi kekurangan,
terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwidjosumatro,Andreas.(1995).Ortopedagogik
Anak Tunarungu.Bandung: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
Purwanto,Heri.(1998).
OrtopedagogikUmum.Yogyakarta:INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
YOGYAKARTA.
Somantri,Sutjihati.(1996).Psikologi
Anak Luar biasa.Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Sadjaah,Edha.
2005. Pendidkan bahas bagi Anak Gangguan pendengaran Dalam Keluarga.
Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Nasional.
Efendi,Muhammad.2006.Psikopedagogik
Anak Berkelainan.Jakarta:Bumi Aksara
http://notako.wordpress.com/2012/12/26/psikologi-anak-tunarungu/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar